Sunday, March 20, 2011

HATI DAN IMAN


Assalamualaikum pembaca blog CERITA <3 CINTA <3;

-miss D terbaca 1 coretan blog yg bg miss D rasa terkesan apbl membacanya.. teruskan membaca utk dikongsi bersama hati, iman dan anda semua- xox0 


Assalamualaikum;

Hari ini saya ingin bertanya pada diri saya dan anda semua satu soalan. Kenapa ya, perkara yang haram itu terasa nikmat dilakukan? Lebih-lebih lagi sekarang. Kalau dulu malu-malu, sekarang mana pergi pakaian malunya?


Coretan ini adalah pandangan peribadi. Saya sekadar ingin berkongsi sebatas ilmu yang saya ada.

Seandainya hati kita terdetik melakukan sesuatu yang salah, cuba bayangkan ianya ibarat kita mencederakan diri kita. 
Sakit atau tidak? Jika sakit, jangan kita lakukan dan jika tidak tahu atau tidak sakit, sila cuba.

Cuba bayangkan pisau yang tajam menghiris kulit secara perlahan. Memisahkan kulit, daging dan deretan lemak menjadi dua. Darah menghambur keluar. 
Sudah pasti kalau kita mencederakan diri sendiri, sudah tentu kita memikirkan dan mempertimbangkan rasa sakit yang paling ringan mahu diberikan. Kita potong perlahan-lahan, hanya hujung pisau sahaja yang kita gunakan, tapi kalau di akhirat nanti, agak-agak Allah ada tanya tidak? "Wahai si pulan, kamu sakit? Sabar ya, sikit lagi hukuman api neraka ini selesai kamu jalani. Aku akan masukkan kamu ke neraka perlahan-lahan."

Sedarlah! Setiap kali kita melakukan maksiat, kita sebenarnya telah mencederakan sesuatu dalam diri kita. Tanpa kita sedar, kita telah mencederakan HATI dan IMAN kita. Astaghfirullah. 

Bayangkan hari-hari:


Kita berburuk sangka dengan manusia lain, kita telah mencederakan HATI dan IMAN kita.

Kita bebas bergaul dengan bukan muhrim, kita telah mencederakan HATI dan IMAN kita.

Kita berkata yang sia-sia dan menyakitkan hati orang lain, kita telah mencederakan HATI dan IMAN kita.

Kita melakukan perkara yang sia-sia, kita telah mencederakan HATI dan IMAN kita.

Ya Allah, seandainya tiap-tiap hari kita mencederakan HATI dan IMAN kita, bilakah pula masanya kita mahu merawatnya?

"Sekali-kali tidak! bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin:14)

Ketahuilah bahawa janji Allah, jika kita baca, tahu dan faham, ianya tidak pernah dusta. Sesungguhnya, janji Allah itu benar. Seperti itu jugalah firman Allah:

"
Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan denganNya, mereka berputus asa dari rahmatKu, dan mereka itu akan mendapat azab yang pedih." (Al-Ankabut: 23)

Setiap kali kita melakukan dosa dan maksiat, setiap kali itulah kita mencederakan HATI dan IMAN kita dengan mencacatkan fungsinya sebagai petunjuk diri. Agak-agak apakah kondisi HATI dan IMAN kita sekarang seandainya sudah tiap-tiap hari kita mencederakannya tanpa memberikan sebarang 'rawatan intensif'?Mungkinkah HATI sudah MATI? Mungkinkah IMAN sudah HILANG?

Kesimpulannya, marilah kita sama-sama muhasabah, duduk sebentar dan koreksi HATI dan IMAN kita.

Pesan dari saya, apabila membaca buku, bacalah dengan kritis. Apabila melihat manusia, lihatlah dengan pandangan yang polos dan tidak perlu kritis menilai sebelum mengenalinya.

Semoga Allah memberkati hamba-hambaNya yang tidak lupa mengingatiNya setiap saat hidupnya. Amin.


ulasan dr miss D : ouch, it's hurt when i read this article.. To IMAN, maafkan diri ini kerana kadangkala gagal mengawal HATI. Ya ALLAH, pandulah HATI ini utk mencari redha Mu yg hakiki :D

nantikan kemunculan miss D dlm ulasan2 blog akan dtg yea! 
(miss D x reti tulis blog sendiri, reti comment je :D )  

Saturday, March 12, 2011

kita yang menjemput...

Nothing much to say but then, its our turn to update this super awesome blog so we have to create at least a sentence right? :p ok. lets start.

Well, most of us know what was happening in Japan recently. Its clear that when Allah swt says kun fayakun, nothing can be saved, no one can help except Him. Alright, stop blabbering. Lets reflect ourselves. what did we do in the past? we keep on sighing whenever something bad happens. we forgot to thank Allah swt for what He gave us before.

Setiap kali ada bencana alam di bumi ini,kita pasti akan teringat kisah-kisah umat terdahulu yang diceritakan dalam Al-Quran untuk kita ambil sebagai pedoman.Antaranya kisah kaum Nabi Lut yang diazab kerana melakukan hubungan sejenis(homoseksual). Seksaan yang dirasai mereka telah difirmankan dalam Surah Hud:82-83 yang bermaksud:

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami mengjungkirbalikkan negeri kaum Lut,dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim." 

Banyak lagi kisah-kisah umat terdahulu yang diceritakan dalam Al-Quran yang boleh kita ambil pengajaran. Antaranya ialah kisah kaum Samud dan kisah kaum Adn. pendek kata, kita hendaklah menjauhi perbuatan zalim dan maksiat iaitu perbuatan-perbuatan yang Sang Pencipta murkai.

sungguh janji Allah amat pasti dalam ayat2 indah Al-Kitab.

belum kering airmata rakyat Indonesia, kejadian tsunami di Jepun sekali lagi menggemparkan dunia dengan ratusan nyawa terkorban. Apakah sempat untuk kita bertaubat, membayar zakat, mengqada' solat, menutup aurat etc.? dengan hanya satu gelombang, Dia mampu menenggelamkan bangunan pencakar langit etc. MasyaAllah, sungguh pedih azab Allah swt. Sungguh besar kekuasaanNya. Tiada lagi reaktor nuklear yang dibanggakan untuk menghalang pencerobohan berlaku, malahan buatan tangan mereka itulah yang akan menghantui hidup mereka sekiranya 'leakage' berlaku. Sehebat manapun ciptaan manusia, apabila hukum Allah swt diketepikan, inilah balasannya. He pays us by cash. TETAPI, sejauh mana kita mengambil iktibar dan pengajaran atas apa yang telah Dia perlihatkan?

Ayuh, kita sama sama muhasabah diri. semoga bencana yang melanda Tokyo menjadi titik tolak untuk kita menjadi yang lebih baik insyaAllah.

sungguh Allah swt maha pengampun.. subhanallah..

"Mereka itulah yang memperoleh keampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk" (24-157)

by,
miss v..miss c^2..miss d senior.

Wednesday, March 9, 2011

How to achieve ISTIQAMAH?

Allah the Almighty says:
"Therefore, stand firm (on the straight path) as you are commanded and those who turn in repentance with you. And do not transgress, for He (Allah) sees well all that you do."
(11:112)

On the authority of Abu 'Amr, though others call him Abu 'Amrah Sufyan bin 'Abdullah, RA, who said:
I said: "O Messenger of Allah, tell me something about Islam which I could not ask anyone about save you." He (Prophet Muhammad) answered: "Say: 'I believe in Allah', and then stand firm and steadfast (ISTIQAMAH)."


Yet, still it's too hard to perform istiqamah. Here are some ways that we can do to achieve that. According to Ibn al-Qayyim, there are 5 conditions to achieve Istiqamah in performing required deeds:
1. The act should be done for the sake of Allah alone (ikhlas).
2. It should be done on the basis of knowledge ('ilm).
3. Performing ibadah should be in the same manner that they have been commanded.
4. To do it in the best way possible.
5. Restricting oneself to what is lawful while performing those deeds.


 And also, according to other scholars of suluk, i.e. behavior, there are certain steps to be followed in order to achieve Istiqamah (steadfastness):

1. Always being aware of the final destination, i.e. the Day of Judgment (Akhirah). And to use this awareness in a positive way as a motive to do good deeds. One way to do it is through remembering that a person's journey towards Akhirah starts the minute he / she passes away and leaves this world. One of the Salafs said:

"If you live until the morning do not wait for the evening and if you live until the evening do not wait for the morning."

2. Commitment (Musharatah). One has to make a commitment that he/she will be steadfast and will do things in the right way and in the best way possible, and to adhere to conjunctions of Islam. Unfortunately many Muslims are being lenient in making such a commitment.


3. To make continuous efforts (Mujahadah) to bring that commitment to reality. Some Muslims dare to make the commitment, but dare not to make the effort to make the commitment a reality.

4. Continuous checking and reviewing of one's deeds (Muraqabah). Being honest with oneself so as not to give false excuses for failing to fulfill a commitment.

5. Self accountability (Muhasabah). This should be done twice: Firstly, before we start doing something, ensuring that it pleases Allah, that we do it for His sake only, realizing the right way it should be done. Secondly, after the action has been done, to check whether we have achieved what we aimed for, and to check for defects and shortcomings, and that we still could have done it better by not being satisfied with our action.

6. Blaming oneself for not doing it perfectly after it has been done. Self blaming here is a positive one by using it as a motive, and by aiming for improvement and having the intention of doing things better next time. This leads to making another commitment and continual commitments to improve our performance.

7. Striving for improvement (Tahsin). We have to make improvements in all that we do (daily activities, work, actions, good deeds, ibadah, etc.) as one of our objectives.

8. To be humble towards Allah, realizing that no one is perfect except Him, seeking His forgiveness, guidance and support.

Let us achieve istiqamah!

Monday, March 7, 2011

who's there?

Assalamualaikum..

short entry..and reminder..hehe
kita selalu bace doa iftitah kan dalam solat.. masih ingatkah anda ape makne bacaan kita tu?? this morning while performing my subuh prayer I just thought of it and wanted to share it...



"Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya. Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi, dengan suasana lurus dan berserah diri dan aku bukan dari golongan orang musyrik. Sesungguhnya SOLATKU, IBADAHKU, HIDUPKU, MATIKU ADALAH UNTUK ALLAH Tuhan sekelian alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan KEPADAKU DIPERINTAHKAN UNTUK TIDAK MENYEKUTUKAN BAGINYA dan aku dari golongan orang Islam."


hehe, ni doa kita kan?? so sejauh mane agaknye kite beriman dengan doa ni ye?? dalam setiap keputusan yang kita buat, dalam semua aktiviti harian yang kita lakukan, dalam kehidupan kita dan persediaan mati kita, adakah semuanya bersih, halus,tulus dan mulus semata-mata kerana Allah??aiyookkk??!!!!











A: knock2x..
B: who’s there?
A: death..
B: oops..is it that time already?? Sorry.. I’m not ready, can you come back later???
……………………….......................................................

Errrrrrr..soooo not gonna happen!!
The only choice we have is to be ready at all time..teehee









MARI BERUSAHA SEMUA! go3X!

Tuesday, February 8, 2011

Jom Menilai Diri

 
Cuba lihat gelas kt atas dgn baik. Kemudian cuba tny pd diri sendiri tentang gelas ini. Sekiranya anda menjawab gelas ini "separuhnya dipenuhi air", maka anda sebenarnya adalah seorang yg positif. Sekiranya anda menjawab gelas ini "separuhnya adalah kosong", maka anda adalah seorang yg negatif. Sekiranya kita melihat sesuatu secara negatif, latihlah diri kita bermula dari sekarang utk melihat sesuatu yg negatif sbg positif. Sebagai permulaannya, cuba lihat setiap perkara positif yg ada pada kawan, keluarga dan org sekeliling walau  pada hakikatnya mereka mempunyai pelbagai kekurangan. Happy trying!


Ibadah Ahli Syurga ^________^

Dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Nasa'i, Anas bin Malik menceritakan satu peristiwa yg dialaminya dalam sebuah majlis bersama Rasulullah saw. Suatu hari sewaktu para sahabat duduk bersama Rasulullah saw, Baginda bersabda yg bermaksud: "Sebentar lg akan muncul di hadapan kalian seorang lelaki penghuni syurga." Seketika kemudian muncul lelaki Ansar yg janggutnya basah dgn air wuduknya. Dia mengikat kedua-dua sandalnya pada tangan sebelah kiri.
Keesokan hari, Rasulullah saw mengulangi perkataan yg sama: "Akan dtg seorang lelaki penghuni syurga." Dan muncul lelaki yg sama. Begitulah Nabi mengulangi sehingga 3 kali. Seusai majlis Rasulullah itu, Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a. mengikuti lelaki yg disebut oleh Nabi itu. Beliau cuba mencari helah utk tinggal bersamanya."Saya bertengkar dgn ayah saya dan saya berjanji kpd ayah saya bhw selama 3 hari saya tidak akan menemuinya. Bolehkah kamu memberi tempat perlindungan kpd saya selama 3 hari?" Pinta Abdullah bin Amr bin al-Ash kpd lelaki itu. Abdullah diizinkan oleh org itu ke rumahnya dan tidurlah di rumahnya selama 3 malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apakah yg dilakukan oleh org itu sehingga dia dikhabarkan oleh Rasulullah saw sbg penghuni syurga. Tetapi selama itu juga dia tidak menyaksikan sesuatu apa yg istimewa dlm ibadahnya.
Kata Abdullah: "Setelah 3 hari aku tidak melihat amalannya sehingga aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata: 'Hai hamba Allah! Sebenarnya aku tidak bertengkar dgn ayahku dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah saw berkata tentang dirimu sampai 3 kali, 'Akan dtg seseorang drpdmu sbg penghuni syurga.' Aku ingin memerhatikan amalanmu supaya aku dpt menirunya. Mudah-mudahan dgn amalan yg sama aku mencapai kedudukanmu.'
Berkata lelaki tersebut: 'Apa yg aku amalkan tidak lebih drpd apa yg engkau saksikan.' "Ketika aku mahu pulang, dia memanggilku dan berkata: 'Demi Allah, amalku tidak lebih drpd apa yg engkau saksikan itu. Hanya aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yg buruk terhadap kaum Muslim dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki atas kebaikan yg diberikan Allah kpd mereka.'" 
"Lalu aku berkata: 'Begitu bersihnya hatimu drpd perasaan buruk terhadap kaum Muslim dan bersihnya hatimu drpd perasaan dengki, inilah yg menyebabkan engkau sampai ke tahap yg terpuji itu. Inilah yg tidak mampu kami lakukan.'" (Hayat al-Shahabah, jil.2, hlm. 520-521).
Hati yg tidak menyimpan dengki dan prasangka terhadap sesama Muslim pd zahirnya nampak sederhana. Tetapi ia adalah akhlak yg mulia, maka kedudukannya amat tinggi di sisi Allah.
  




Friday, February 4, 2011

The Cracked Pots


A waterbearer in India had two large pots, one hung on each end of a pole, which he carried across his neck.
One of the pots had a crack in it. While the other pot was perfect, and always delivered a full portion of water at the end of the long walk from the stream to the master’s house, the cracked pot arrived only half full.
For a full two years this went on daily, with the bearer delivering only one and a half pots full of water in his master’s house.
The perfect pot was proud of its accomplishments, perfect to the end for which it was made. But the poor cracked pot was ashamed of its own imperfection, and miserable that it was able to accomplish only half of what it had been made to do.
After two years of what it perceived to be a bitter failure, it spoke to the water bearer one day by the stream: “I am ashamed of myself, and I want to apologize to you.”
Why?” asked the bearer. “What are you ashamed of?”
“I have been able, for these past two years, to deliver only half my load because this crack in my side causes water to leak out all the way back to your master’s house. Because of my flaws, you have to do all of this work, and you don’t get full value from your efforts,” the pot said.
The water bearer felt sorry for the old cracked pot, and in his compassion he said, “As we return to the master’s house, I want you to notice the beautiful flowers along the path.”
Indeed, as they went up the hill, the old cracked pot took notice of the sun warming the beautiful wild flowers on the side of the path, and this cheered it some.
But at the end of the trail, it still felt bad because it had leaked out half its load, and so again it apologized to the bearer for its failure.
The bearer said to the pot, “Did you notice that there were flowers only on your side of the path, but not on the other pot’s side?
“That’s because I have always known about your flaw, and I took advantage of it. I planted flower seeds on your side of the path, and every day while we walk back from the stream, you’ve watered them.
“For two years I have been able to pick these beautiful flowers to decorate my master’s table. Without you being just the way you are, he would not have this beauty to grace his house. Without you as who you are, our master's house wouldn't be as beautiful as it is now."

MORAL OF THE STORY:
1. Everyone of us have our own shortage and weaknesses. We are all cracked pots. But if we are willing to, we can make advantage of them instead of opposing them. In the eyes of the wise, nothing is wasted. Do not be blocked by your disadvantages. Know your weaknesses and you too can be the water for the better life of all. Know, that in our weaknesses, we find our strengths.
2. Remember to appreciate all the different people in your life.
When you choose your friends, don't be short-changed by choosing personality over character. Accept people as they are. Never expect anything, always try to give .. for, it is their wonderful friendship you are getting in return.



-al-mukhlis-